Singkong dan Luka Harga: Ikhtiar Gubernur Mirza Mencari Jalan dari Hulu ke Hilir
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmennya untuk membenahi persoalan harga singkong di Lampung melalui perbaikan menyeluruh ekosistem singkong, mulai dari hulu hingga hilir.
Hal itu disampaikannya saat Podcast bersama Rilis ID yang dipimpin Direktur Utama Rilis ID, Wirahadikusumah di Kantor Gubernur Lampung, Jumat, 23 Januari 2026.
Menurut Gubernur Mirza, singkong merupakan komoditas yang unik. Dari sisi nilai ekonomi, singkong memang bukan penyumbang terbesar sektor pertanian jika dibandingkan dengan luas lahan yang digunakan. Dengan luas tanam sekitar 450–500 ribu hektare, nilai ekonomi singkong di Lampung hanya sekitar Rp8 triliun. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan komoditas jagung dan padi yang masing-masing bernilai di atas Rp15 triliun, meskipun luas lahannya jauh lebih kecil.
“Kalau dilihat dari hitung-hitungan ekonomi murni, singkong ini kalah dibanding padi dan jagung. Tapi singkong ini bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari sejarah dan budaya Lampung,” ujar Mirza.
Ia menjelaskan, singkong telah dibudidayakan ratusan tahun dan menyatu dengan kehidupan masyarakat Lampung. Secara sosial dan kultural, masyarakat memiliki keterikatan yang kuat dengan singkong, sehingga komoditas ini tetap dipertahankan meskipun kontribusi ekonominya relatif lebih kecil.
Perkembangan singkong di Lampung kemudian mendorong tumbuhnya industri hilir, terutama industri tapioka. Saat ini, Lampung menjadi produsen tapioka terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 60–70 persen produksi nasional. Bahkan, Indonesia menempati peringkat keempat produsen singkong dunia, dan Lampung memegang posisi strategis dalam rantai pasok tersebut.
Namun demikian, Mirza mengakui struktur industri singkong di Lampung masih menyimpan persoalan besar. Sekitar 90 persen produksi singkong Lampung diserap oleh industri tapioka. Singkong bukan barang konsumsi langsung, melainkan bahan baku industri yang harga jualnya sangat dipengaruhi pasar global.
“Tapioka Lampung harus bersaing dengan produk dari Thailand, Vietnam, dan negara lain. Dalam persaingan global, yang murah pasti menang. Selama ini kita bangga punya banyak pabrik, tapi lupa memperkuat daya saing,” kata Mirza.
Ia mencontohkan Vietnam yang sejak puluhan tahun lalu membangun hubungan kuat antara petani dan industri. Hasilnya, produktivitas singkong per hektare di negara tersebut jauh lebih tinggi.
Sementara di Lampung, industri dan petani cenderung berjalan sendiri-sendiri.
Gubernur Lampung
Rahmat Mirzani Djausal
singkong
harga singkong Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
